Selasa, 20 Mei 2014

ESENSI & KONSEPSI PURA SEBAGAI TEMPAT SUCI DI BALI

ESENSI & KONSEPSI PURA SEBAGAI TEMPAT SUCI DI BALI

oleh :
Ida Bagus Gede Wiyana
I.       ZAMAN PRASEJARAH
Sejak masa prasejarah di kalangan masyarakat Bali ada anggapan bahwa tanah-tanah yang meninggi seperti bukit ‘ngenjung’ dan gunung ’wukir, hulu, lingga’ merupakan tempat para arwah leluhur yang telah suci. Oleh karena itu, bukit dan gunung dianggap sebagai tempat suci dan keramat. Pada masa itu masyarakat Bali tradisi mempunyai suatu kepercayaan, bahwa roh orang yang meninggal akan hidup abadi di alam lain dengan tempat manusia hidup di bumi ini. Oleh karena itu, dikenal adanya bermacam-macam cara merawat mayat agar rohnya dapat hidup dengan layak di alam baka.
Adanya suatu kepercayaan, bahwa roh orang yang meninggal bersemayam di tempat-tempat yang tinggi, bukit dan atau di gunung, dapat diketahui melalui peninggalan masyarakat prasejarah yang berhubungan dengan tradisi pemujaan nenek moyang ’roh para leluhur / kawitan’ yang umumnya dijumpai di daerah dataran tinggi. Untuk keperluan tersebut, masyarakat prasejarah mendirikan berbagai bangunan yang terbuat dan tersusun dari batu-batu besar (megalitik), antara lain berupa dolmen, menhir, bilik batu, kubur batu, punden berundak.
Di kepulauan Indonesia susunan batu-batu dari tradisi megalitik yang didirikan di tempat-tempat tinggi dijumpai di berbagai tempat. Di daerah dataran tinggi Pasemah (Sumatera Selatan) didapatkan sejumlah dolmen, kubur batu, menhir, arca-arca sederhana yang menggambarkan peninggalan nenek moyangnya. Di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat didapatkan pula situs punden berundak dalam ukuran besar yang dibangun di atas bukit Gunung Padang, punden itu mempunyai lima teras bertingkat. Teras-teras tersebut dibentuk dengan menyusun balok-balok batu yang panjangnya 60-100 cm. Masyarakat setempat sampai saat ini masih menganggap, bahwa situs ini adalah tempat bersemayamnya para “karuhun” atau nenek moyangnya.
Situs megalitik lainnya didapatkan pula di daerah pegunungan Sulawesi Tengah, yaitu situs Lembah Palu, Bada, Besoa, Napu. Selain itu, peninggalan tradisi megalitik banyak dijumpai di daerah Nusa Tenggara Timur, terutama di pu1au Flores, Sumbawa dan Timor. Peningga1an yang dijumpai pada tempat-tempat tersebut di atas umumnya berbentuk lumpang batu, kalamba, arca bercorak megalitik, batu dakon, bangunan teras berundak, peti kubur, dan lain-lain.
Di Bali, situs-situs masa prasejarah terutama dari masa megalitik dijumpai pada dataran tinggi dan perbukitan, seperti di desa Tenganan Pegringsingan (Karangasem), daerah Kintamani (Bangli), Penebel (Tabanan), Keramas (Gianyar), Sembiran (Singaraja), dan lain-lain.
Sesungguhnya tradisi megalitik tidak semata-mata hanya menghormati dan memuja roh nenek moyang, walaupun kultus terhadap roh nenek moyang terbukti sangat kuat terasakan dalam tradisi megalitik. Pemujaan terhadap roh nenek moyang mempunyai tujuan praktis yang dapat dirasakan langsung oleh para pemujanya. Dengan memuja roh leluhur, para pendukung tradisi megalitik agaknya mengharapkan juga perbaikan-perbaikan dalam kehidupan, seperti mengharapkan hasil panen yang lebih baik, terhindar dari bencana alam atau wabah penyakit, memperoleh keberuntungan dan pengungkapan rasa syukur. Segala keinginan pendukung tradisi megalitik ­tersebut kemudian diupayakan untuk dapat dipenuhi dengan cara memuja roh nenek moyang, karena mereka beranggapan, roh nenek moyang yang telah hidup di dunia lain, diharapkan dapat memberikan bantuan kepada manusia yang masih hidup. Oleh sebab itu, yang tampak ditekankan dalam tradisi megalitik adalah konsep terhadap roh nenek moyang.
II.      MASUKNYA BUDAYA HINDU
Setelah pengaruh budaya India masuk ke Bali pada sekitar abad VIII, Bali mulai menapaki masa sejarah. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya dokumen tertulis berupa prasasti-prasasti pada tablet­-tablet tanah liat di desa Pejeng, Tatiapi, dan Blahbatuh di Kabupaten Gianyar. Tampaknya, pemujaan terhadap tempat-­tempat tinggi atau gunung suci tetap berlangsung terus, dan bahkan mendapat bentuk baru yang dikuatkan dengan kisah-kisah tentang para dewa yang bersemayam di puncak-puncak gunung. Sumber prasasti sering menyebut, bahwa gunung dan bukit yang menjadisthana para dewa di Bali, antara lain bukit Humintang (prasasti Dausa, Pura Bukit Indrakila A II 983 Saka, Gunung Bangkyang Sidi (sekarong Bangkyang Sidem), bukit Karimana, bukit Tunggal, bukit atau Wukir Kulit Byu dan lain-lain. Gunung dan bukit -bukit itu, beberapa di antaranya masih dapat dikenali, antara lain ialah bukit Karimana terdapat di sebuah desa Sidem Bunut, Bangli, tempat dibangunnya Pura Kehen, Bukit Tunggal yang kini disebut Gunung Sinunggal terdapat di wilayah desa Tajun, Kabupaten Buleleng. Dan di atas gunung itu terdapat sebuah pura yang disebut Pura Gunung Sinunggal. Dan bukit Kulit Byu sekarang disebut Gunung Abang (Pura Tuluk Byu), di atas desa Abang, Kecamatan Kintamani, Bangli.
Adapun nama-nama para dewa yang bersernayam di puncak gunung atau puncak bukit itu tidak disebutkan secara jelas di dalam prasasti-­prasasti Bali Kuno. Tidak disebutkannya nama-nama dewa itu kemungkinan besar karena kepercayaan masyarakat pada masa itu menganggap bahwa menyebut nama-nama dewa sangat berdosa bahkan bisa kena kutukan. Dengan kata lain, penyebutan nama dewa sangat ditabukan dan dianggap sebagai pantangan. Di dalam sumber-sumber prasasti Bali Kuno biasanya yang disebut hanya nama-nama gelarnya, seperti hyang, da hyang, ra hyang, sang hyang, dan bhatara. sebagai contoh, ialah Hyang Bukit Sidi artinya “dewa atau bhatara yang bersemayam di puncak bukit Sidi”, demikian seterusnya. Kecuali Hyang Bukit Tunggal dapat diketahui nama dewanya, berdasarkan prasasti Abang Pura Batur, bahwa yang bersemayam di puncak boot Tunggal adalah Hyang Binakaya Hyang Binakaya sinonim dengan Sang Hyang Sad Winakaya (yang sering disebut-sebut dalam bagian kutukan prasasti), yakni Sang Hyang Gana atau Bhatara Ganesa Binakaya sampai sekarong masih tersimpan di dalam Pura Bukit Tunggal yang selalu dipuja setiap ada hari upacara di dalam pura tersebut.
Demikian pula, Sang Hyang Wukir Byu. Menurut prasasti Pura Batur Desa Abang, dahulu di atas bukit Tuluk Byu terdapat sebuah pura. Di dalam pura tersebut terdapat beberapa buah bangunan pelinggih dan juga sebuah tarub, yaitu semacam balai wantilan atau balai terbuka untuk tempat sabungan ayam yang dilakukan dalam rangkaian upacara di dalam pura tersebut. Dalam prasasti itu disebutkan bahwa dewa yang bersemayam di dalam pura itu adalah Bhatara Bayu. Selanjutnya pada tahun 1011 Masehi pada masa pemerintahan raja Udayana Warmadewa tempat suci tersebut diperluas dan diperbaiki. Disebutkan pula bahwa masyarakat dari desa-desa di pinggir Danau Batur (winkang ranu), yakni desa Kedisan, Bwahan, Abang, Trunyan dan Songan berduyun-duyun datang ke puncak Bukit Byu guna menunaikan kewajiban, yakni bersembahyang. Di dalam prasasti tersebut “madewasraya I sanghyang wukir kulit byu” artinya “bersembahyang kehadapan Ida Bhatara yang bersemayam di Bukit Byu.”
Kemudian dari sumber-sumber lontar, dan babad diketahui pula sejumlah nama-nama gunung yang dianggap suci tempat bersemayan para dewa. Gunung-gunung itu, antara lain Gunung Lempuyang (Karangasem) tempat bersemayam dewa atau Bhatara Genijaya, Gunung Beratan (Tabanan) tempat bersemayam Bhatara Watukaru, Gunung Mangu (Badung) tempat bersemayam Bhatara Danawa, Gunung Andakasa tempat bersemayam Bhatara Hyang Tugu dan Gunung Agung (Karangasem) tempat bersemayam Bhatara Purnajaya. Jawa pada sekitar abad VIII sudah dikenal adanya penghormatan terhadap dewa Siwa (lingga) dan temyata dikenal pula di pulau Bali. Puluhan bahkan ratusan lingga dijumpai pada tempat -tempat suci yaitu pura yang tersebar di seluruh pulau Bali. Peninggalan purbakala berupa lingga yang ditemukan di Pura Tegeh Koripan di Gunung Penulisan, Goa Gajah, di Penulisan, Pura Kedarman di Kutri, Pura Penataran Sasih di Pejeng dan pura Tirtha Empul di Tampaksiring, ada1ah sebagian kecil dari keseluruhan yang ada. Sementara itu, keberadaan agama Hindu dan Budha pada masa Bali Kuno (abad VIII – XIV) tidak perlu disangsikan. Pengaruh agama Budha di Bali telah terlihat pada awal masa Bali Kuno, yakni sekitar abad VIII dan bukti pengaruh agama Hindu berasal dari kira-kira setengah abad kemudian. Dewa-dewa utama agama Hindu, yakni Trimurti, telah dipuja pada masa itu. Pernyataan namasiwaya namobuddhaya yang tersurat dalam prasasti Landih A menegaskan bahwa raja Jayasakti bukan saja bakti kepada dewa Siwa tetapi juga kepada Budha. Ungkapan yang menyatakan bahwa raja Anak Wungsu laksana Harimurti sebagaimana terbaca dalam prasasti Dawan perlu pula dikemukakan di sini. Kata murti secara harfiah berarti “perwujudan” dan hari adalah nama lain untuk dewa Wisnu. Ungkapan itu bukan berarti bahwa raja Anak Wungsu sebagai penganut sekte Waisnawa. Namun tampaknya lebih tepat jika ungkapan itu dipandang sebagai petunjuk bahwa Anak Wungsu menyadari dirinya sebagai raja yang berkewajiban melindungi dan memakmurkan negara serta rakyatnya, seperti halnya dewa Wisnu yang berfungsi sebagai pelindung dunia beserta segenap isinya.
Mengenai ungkapan yang mengacu pada dewa Brahma, sampai saat ini belum ditemukan da1am sumber-sumber prasasti. Namun demikian, temuan arca dewa Brahma, arca Catur Muka yang berasal dari masa Bali Kuno membuktikan bahwa dewa tersebut te1ah dikenal dan dipuj a pada waktu itu. Demikian juga temuan arca-arca Siwa dan Wisnu di beberapa tempat di Bali memperkuat pendapat bahwa dewa Trimurti telah mendapat posisi tinggi sebagai sarana pemujaan.
Da1am perkembangan selanjutnya, penduduk makin lama makin bertambah banyak. Karena kepadatan penduduk, banyak penduduk yang semula tinggal dekat tempat-tempat suci pergi ke tempat lain yang agak jauh. Perpindahan ini mungkin disebabkan oleh karena mencari penghidupan yang baru atau karena desanya dirasa tidak aman, sering terjadi kerusuhan dan perampokan seperti ha1nya desa Ju1ah pada sekitar abad XI, sebagaimana diberitakan dalam prasasti Sembiran A IV. Pada tempat yang baru ini, mereka membuat suatu bangunan yang sifatnya sementara. Bangunan ini dibuat dari ”turus pohon dapdap” sebagai tiangnya dan dibuatkan sebuah ruangan dengan balai-­balai yang dibuat dari bambu untuk tempat me1etakkan sajian. Bangunan suci jenis ini disebut ”turus lumbung”.
Turus lumbung mengandung arti kias “melindungi dan menghidupi pemujanya”. Turusdapdap merupakan tameng atau perisai, yakni alat untuk melindungi diri ; dan lumbung, yakni tempat untuk menyimpan padi untuk penghidupan. Bangunan ini sifatnya sementara yang nantinya akan diganti dengan bangunan yang agak permanen menurut kemampuan penghuninya. Setelah penghuninya agak mampu, barulah mereka membuat bangunan untuk mengganti turus lumbung itu. Bangunan pelinggih ini dibuat dari kayu dan bambu serta memakai satu ruangan (me-rong tunggal) yang digunakan untuk tempat sajian. Bangunan rong tunggal inilah yang disebut ” kemulan atau sanggahkemulan”. Peninggalan-peninggalan bangunan ini dijumpai di desa­-desa kuno di Bali, seperti di Julah, Sembiran, Lateng, Dausa, dan tempat kuno lainnya.
Lama kelamaan oleh karena kebudayaan manusia makin maju, maka dalam perkembangan sejarah bangunan rong tunggal berkembang menjadi dua ruangan (merong dua). Dalam perkembangan selanjutnya bangunan rong dua berkembang menjadi Bali yang beragama Hindu. Bangunan seperti ini merupakan tempat untuk menghormati atau memuja leluhur-leluhur mereka yang telah disucikan. Selanjutnya, dalam perkembangan kemudian, bangunan yang memakai ruangan tiga (rong telu) disesuaikan dengan konsep Trimurti yang terdiri dari tiga dewa, yakni Brahma, Wisnu, dan Iswara. Ketiga dewa ini merupakan perwujudan dari Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Mahaesa), yang masing-masing berfungsi sebagai dewa pencipta, pemelihara dan pemralina. Kesatuan ketiga dewa inilah disebut dengan Sang Hyang Trimurti atau Tri Tunggal. Pengaruh konsep Trimurti inilah menyebabkan bangunan rong telu berfungsi ganda. Pertama, untuk tempat memuja arwah leluhur yang telah suci, dan yang kedua untuk memuja Sang Hyang Trimurti, yaitu Brahma, Wisnu dan Iswara.
Sanggah Kemulan ini dipuja hanya oleh suatu keluarga sekelompok kecil. Kemudian apabila keluarga kecil sudah membiak menjadi beberapa kepala keluarga, maka mereka mendirikan beberapa buah bangunan/pelinggih untuk melengkapi bangunan yang telah ada di dalam sanggah pemujaannya. Bangunan-bangunan yang baru ini digunakan untuk tempat pemujaan roh-roh suci dari orang-orang yang dianggap telah berjasa, sesuai dengan pelinggih-pelinggih yang terdapat di dalam bangunan suci asalnya. Pelinggih-pelinggih yang baru itu disejajarkan tempatnya dengan bangunan suci asalnya. Pelinggih-pelinggih yang baru disejajarkan tempatnya dengan bangunan kemulan, sehingga keseluruhannya disebut “sanggah pamerajan “. Bangunan-bangunan baru itu sangat bervariasi, tetapi pada umumnya terdiri dari bangunan menjangan seluang,bangunan gedong, sanggar agung, bangunan berkerucut, bangunan saka ulu gempel, dan bangunan taksu.
Untuk tempat pertemuan Ida Bhatara- Bhatari yang berlangsung pada setiap ada upacara di sanggah pamerajan, mereka membuat lagi bangunan balai-balai yang disebut balai piyasan, yakni balai untuk Bhatara-Bhatari berhias. Walaupun sudah mendirikan sanggah kemulan, mereka juga memuja dewa-dewa yang ada di dalam tempat suci asalnya. Pemujaan ini dilakukan pada setiap adanya upacara dalam tempat suci tersebut. Untuk menghemat biaya dan untuk memudahkan jalan persembahyangan, dewa-dewa yang bersemayam di tempat suci asalnya dibuatkan pelinggih dalam sanggah pamrajan yang bam itu. Karena demikian, maka tidak mengherankan apabila pelinggih­-pelinggih di dalam sanggah pamerajan tidak tetap jumlahnya dan bisa mencapai duapuluhan, malahan bisa lebih. Dengan demikian, muncul pelinggih-pelinggih yang baru untuk memuja para dewa, seperti bangunan tumpang salu bangunan sakapat, tugu, meru, bangunan bebaturan, gedong sari, dan lain-lain.
Dalam perkembangan selanjutnya, diketahui bahwa suatu desa terdiri dari beberapa klen atau warga yang berbeda-beda leluhumya. Untuk mempersatukan klen-klen itu, mereka sepakat membangun tempat suci bersama, yaitu tiga buah pura yang dikenal dengan “Kahyangan Tiga”. Di dalam pura-pura itulah mereka berkumpul saling kenal mengenal dan bersama-sama memuja dewa-dewa yag bersemayam didalam pura tersebut. Ketiga pura yang dimaksud adalah Pura Puseh, Pura Desa/Bale Agung dan Pura Dalem.
Kedatangan Mpu Kuturan, Resi Markandya, dan Dang Hyang Nirartha ke Bali membawa perubahan-perubahan besar dalam tata keagamaan di pulau ini. Mpu Kuturan menganjurkan pembuatan Kahyangan Catur Lokapala, Sad Kahyangan Jagat. Selain itu, juga mengajarkan membuat kahyangan secara fisik dan spiritual, seperti jenis-jenis upacara, jenis-jenis pedagingan sebagaimana diuraikan dalam lontar Dewatatwa. Penyempumaan kehidupan agama Hindu di Bali dilakukan pula oleh Dang Hyang Nirartha. Beliau datang ke Bali pada abad XV pada masa pemerintahan raja Dalem Waturenggong di Gelgel, Klungkung. Pelinggih ini untuk memuja Hyang Widhi dan sekaligus membedakan pelinggih pemujaan dewa roh leluhur. Beliau distahanakan, dipuja di banyak pura di Bali sebagai penghormatan para bhakta selama beliau melakukan dharmayatra, seperti Pura Purancak, Rambut Siwi, Gading Wani, Srijong, Pekendungan, Tanah Lot, Taman Sari, Gunung Payung, Pucak Tedung, Sakenan, Erjeruk, Masceti, Goa Gong, Taman Pule, Dalem Gandamayu, Peti Tenget, Ponjok Batu, Ulu Watu, dan lain-lain (k.l. 35 pura).
III.    KONSEP PURA
Istilah pura dengan pengertian sebagai tempat suci pemujaan masyarakat Hindu Bali digunakan setelah dinasti Kresna Kepakisan yang berkeraton di Klungkung sekitar abad XVII. Pada umumnya pura dibagi atas tiga halaman, yaitu jabaan (halaman luar/kanistha), jaba tengah (halaman tengah/madhya) dan jeroan (halaman dalam/uttama). Akan tetapi perkecualian tetap ada, di dalam pura-pura yang kecil sering ditemukan halaman luar dan tengah digabung menjadi satu, sehingga pura itu terbagi menjadi dua bagian, yaitu halaman luar dan halaman dalam. Masing-masing halaman pura dibatasi oleh tembok keli1ing dengan pintu masuk berbentuk candi bentar yang terletak antara halaman luar dengan halaman tengah, dan kori agung atau candi kurung sebagai penghubung halaman tengah dengan halaman dalam.
Menurut konsep Hindu, pura adalah simbolis gunung. Tuhan, para dewa, dan roh suci leluhur dianggap bersemayam di puncak gunung, sehingga gunung dipandang sebagai tempat suci. Konsepsi masyarakat Hindu di Bali tentang alam semesta didasarkan atas pandangan bahwa alam ini tersusun menjadi tiga bagian yag disebut triloka, yaitu alam bawah (bhur loka), alam tengah (bwah loka) dan alam atas (swah loka). Dalam diri manusia pandangan itu terwujud ke dalam konsep tri angga, yaitu kaki, badan dan kepala.Demikian pula dalam suatu bangunan suci candi misalnya, bagian-bagiannya terdiri atasdasarbadan dan atap candi. Azas itu tercermin pula pada struktur tempat suci pura yang terdiri atas tiga halaman seperti telah disebutkan di atas.
Halaman luar (jabaan) adalah lambang alam bawah. Alam ini, menurut kepercayaan umat Hindu, dianggap sebagai tempat para bhuta kala, sehingga halaman ini digunakan sebagai tempat memberi sesajen kepada makhluk tersebut agar tidak mengganggu manusia. Halaman ini digunakan untuk mengadakan upacara yang berhubungan dengan makhluk itu, seperti upacara macaru, dan tabuh rah. Halaman tengah (jaba tengah) adalah simbolis dari alam tengah, yaitu sebagai tempat tinggal manusia. Di halaman inilah dilaksanakan aktivitas menyiapkan segala sesajen untuk kepentingan upacara di pura tersebut. Sementara itu halaman dalam (jeroan) adalah simbolis alam atas sebagai tempat Tuhan, dewa-dewa dan roh suci para leluhur yang telah bersatu dengan Tuhan.
Semua bangunan yang ada di halaman dalam suatu pura, menurut fungsinya dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu palinggih dan pasimpanganPalinggih adalah bangunan yang disediakan untuk bertahta para dewa yang mempunyai kekuasaan langsung dalam pura tersebut, sedangkan pasimpangan adalah bangunan yang hanya menyediakan tempat singgah bagi para dewa, yang bertahta di tempat lain, tetapi menjadi pelindung tetap dari pura itu. Namun demikian, jika dihayati lebih mendalam, sesungguhnya bukan saja pasimpangan, melainkan palinggih pun dan bahkan puranya sendiri merupakan tempat singgah belaka dari para dewa. Dikatakan demikian, karena tempat menetapnya ada1ah di “kahyangan atau di puncak gunung”. Kedatangannya di pura hanyalah pada saat-saat tertentu, misalnya pada waktu diadakannya upacara piodalan di pura itu. Pada saat inilah pura itu penuh dengan”tamu agung” yang terdiri atas semua para dewa yang ada sangkut pautnya dengan pura tersebut.
Di antara para dewa itu, ada seorang yang boleh dikatakan menjadi penguasa pura yang pada hari piodalan menjadi tuan rumah. Memang latar belakang pendirian sebuah pura adalah diperuntukkan bagi seorang dewa tertentu. Oleh karena itu, dalam pura itu sang dewa dimuliakan secara khusus. Pada hari piodalan di pura tersebut pratima yang menjadi wakil wadagnya dihias dengan segala macam hiasan kebesaran, dan diarak dengan segala kemegahan untuk kemudian ditahtakan di balai pengaruman (balai pesamuan). Di balai inilah para dewa dan tamunya mengambil tempat untuk turut untuk merayakan hari besar pura itu, dan bersama tuan rumah menerima penghormatan dan persembahan dari umat. Upacara piodalan dalam suatu pura bisa berlangsung selama satu hari, tigahari, satu minggu, bahkan satu bulan. Upacara perayaan itu pada pokoknya terdiri atas dua macam kegiatan yang harus dilakukan oleh umat, yaitu mebanten(menyediakan saji­-sajian) dan mabakti (menjalankan persembahyangan). Jika upacara-­upacara telah selesai, para dewa kembali lagi ke persemayaman masing­-masing dan pratimanya diarak kembali ke tempat penyimpanannya.
Mpu Kuturan dan Dang Hyang Nirartha dianggap berjasa dalam mengembangkan dan menyempurnakan agama Hindu. Umat Hindu merasa berhutang jasa kepada beliau. Untuk memuja kebesarannya, beliau dianggap sebagai pendeta guru suci atau dang guru. Pura Silayukti, Rambut Siwi, Pulaki, Ponjok Batu, Sakenan, dan lain-lain adalah pura-pura yang berkaitan dengan perjalanan suci (dharmayatra) yang dilakukan oleh kedua rohaniawan tersebut. Sekarang pura-pura tersebut menjadi Dang Kahyangan.
Berbagai profesi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya telah menyebabkan munculnya berbagai tempat suci atau pura. Para nelayan yang umumnya bermukim di pesisir mencari penghidupan di laut. Ada yang menjala, mengail, dan lain sebagainya. Oleh karena laut dianggap bisa memberi kehidupan, kemudian masyarakat nelayan mendirikan sebuah pura yang disebut Pura Segara atau Pura Pabean. Demikian pula kelompok masyarakat yang mempunyai profesi sebagai petani pengolah tanah basah, mereka akan terikat kepada air, yang dianggap sebagai sumber kehidupannya. Dengan demikian mereka bersatu pula untuk mendirikan pura-pura yang dekat dengan sumber air. Pura-pura itu disebut Ulun Danu, Pura Siwi, Pura Bedugul, Pura Masceti, yang berfungsi sebagai pura kemakmuran. Sementara itu, hal yang sama juga berlaku bagi mereka yang mernpunyai profesi sebagai pedagang. Ikatan kekaryaan karena mernpunyai profesi yang sama, yaitu sebagai pedagang, menyebabkan adanya pemujaan dalam wujud pura yang disebut Pura Melanting. Umumnya pura ini didirikan di dalam suatu pasar yang dipuja oleh para pedagang dalam lingkungan pasar tersebut.
IV.    PURA SEBAGAI TEMPAT SUCI
Seperti yang disampaikan diatas Bali adalah sebuah pulau kecil diantara gugusan pulau yang membangun negeri kita Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Bali adalah salah satu pulau dari lebih tiga belas ribu pulau yang membangun bumi Nusantara. Sejak lama Bali yang kecil mungil ini dikenal masyarakat dunia karena keunikannya dan hasi kebudayaan yang dimiliki dari jaman dahulu kala sampai dewasa ini. Bali sering dijuluki sebagai pulau “Seribu Pulau”. Julukan di atas jelas tak mengada-ada. Berdasarkan karakteristiknya Pura yang ribuan jumlahnya itu diklasifikasikan menjadi empat kelompok :
  1. PURA KAYANGAN JAGAT,yaitu Pura umum tempat pemujaan Hyang Widhi dengan segala prabhawa-Nya serta roh suci leluhur, termasuk didalamnya Pura Sad Kahyangan dan Dang Kahyangan. Yang disebut Pura Kahyangan Jagat ialah Pura-pura Kahyangan Agung terutama yang terdapat di delapan penjuru mata angin dan pusat pulau Bali seperti :
    1. Pura Lempuyang sthana Hyang Widhi dalam prabhawa-Nya sebagai Iswara diujung Timur pulau Bali.
    2. Pura Andakasa sthana Hyang Widhi dalam prabhawa-Nya sebagai Brahma terletak di Selatan pulau Bali.
    3. Pura Batu Karu sthana Hyang Widhi dalam prabhawa-Nya sebagai Maha Dewa terletak di bagian Barat pulau Bali.
    4. Pura Ulun Danu sthana Hyang Widhi dalam prabhawa-Nya sebagai Wisnu terletak di Utara pulau Bali.
    5. Pura Goa Lawah sthana Hyang Widhi dalam prabhawa-Nya sebagai Maheswara terletak di Tenggara pulau Bali.
    6. Pura Ulu Watu sthana Hyang Widhi dalam prabhawa-Nya sebagai Rudra terletak di Barat Daya pulau Bali.
    7. Pura Puncak Mangu sthana Hyang Widhi dalam prabhawa-Nya sebagai Sangkara terletak di Barat Laut pulau Bali,
    8. Pura Besakih sthana Hyang Widhi dalam prabhawa-Nya sebagai Sambhu terletak di Timur Laut pulau Bali. Disamping merupakan Pura Kahyangan Jagat sthana Dewa Sambhu, Besakih juga menjadi pusat Kahyangan dan bertempat di ”Kadyanikang Bhuana” ditengah-tengah pulau Bali sebagai sthana Hyang Widhi dalam prabhawa-Nya Siwa.
2.         PURA KAHYANGAN DESA, yaitu Pura yang disungsung oleh Desa adat berupa Kahyangan Tiga yakni : Pura Desa atau Bale Agung tempat memuja Hyang widhi dalam prabhawanya sebagai Dewa Brahma & Dewi Bhagawati (Utpeti/Pencipta), Pura Puseh sebagai tempat pemujaan Wisnu sebagai Pemelihara (Sthiti) serta Pura Dalem tempat pemuja Siwa sebagai Pralina .
3.         PURA SWAGINA atau PURA FUNGSIONAL yakni Pura yang penyiwinya /pemujanya terikat oleh ”Swagina” (kekaryaan) yang satu yakni memiliki profesi sama dalam sistem mata pencaharian hidupnya seperti Pura Subak, Dugul, Ulun Suwi, Melanting, dan sebagainya
4.         PURA KAWITAN yaitu Pura yang Penyiwinya ditentukan oleh ikatan ”Wit” atau asal muasal atau ikatan leluhur berdassarkan garis keturunan geneologis seperti : Sanggah/pemerajan, Prthiwi, Ibu/Paibon, Panti, Dadia, Dalem Dadia, Penataran Dadia, Pedarman dan sejenisnya.
Kepercayaan gunung sebagai tempat suci atau alam roh leluhur sejalan dengan unsur kebudayaan Hindu yang menganggap bahwa gunung sebagai alam dewata. Akulturasi dua unsur kebudayaan tersebut maka timbullah pandangan bahwa Gunung disamping sebagai tempat roh leluhur juga sebagai alam ”Dewa-Dewa”.Berdasarkan jalan pikiran yang demikian itu, maka timbullah pengertian bahwa Pura adalah simbul dari gunung, konsep kesemestaan dalam membangun sebuah pura, seluruh kompenen pembangunan adalah sebuah wujud persembahan. Pura juga berarti tempat sujud atau tempat persembahyangan, pura adalah tempat menghadap kehadapan ”Sanghyang paramaning dumadi” dan juga tempat memohon wahyu, berkat dan rahmat wara nugraha dari Hyang Widhi oleh karena Pura adalah tempat suci ia patut dijaga kesuciannya serta dihormati oleh umat pemeluknya. Agama pada hakekatnya bertujuan untuk menyucikan umatnya, maka peranan Pura semakin penting sebagai ”Pusat Rohani”, tempat memuja Hyang Widhi, dan juga sebagai tempat untuk melaksanakan Dharma Wacana, Dharma Gita, Dharma Tula, Dharma Santhi, Darma Sedana dan Dharma Yatra.
Seperti yang telah kami kemukakan diatas, adanya karakterisasi pengelompokan Pura khususnya di Bali bermakna pula untuk menyatakan umat sesuai dengan pengelompokan sosialnya. Pura Kawitan merukunkan dan menyatukan umat menurut keluarganya. Pura Kahyangan Desa , umat menjadi rukun dan damai dalam satu wilayah Desa Pakraman. Pura Swagina bermakna pula menyatukan umat yang memiliki kesamaan Profesi. Pura Kahyangan Jagat disamping fungsi utamanya untuk memuja Hyang Widhi dengan berbagai Prabhawa-Nya, juga menyatukan umat secara Universal dengan tidak memandang asal keluarga, asal Desanya maupun asal profesinya.
Jadi demikianlah, sesungguhnya apa yang disebut Pura memiliki arti dan makna yang sangat dalam. Pura sebagai tempat Suci, demikian pula seperti Panti, Pemerajan, Pedharman, Kahyangan Tiga, Sad Kahyangan dan yang lainnya adalah bagian penting dari suatu ”Tubuh” masyarakat. Tempat-tempat seperti itu tidak saja memiliki kedudukan yang penting, tetapi juga memili fungsi yang sentral bagi dinamika kehidupan masyarakt di maksud, bagi kebudayan dan juga bagi peradaban masyarakat tersebut.
V.     PENGELOMPOKAN PURA
Mengenai istilah Pura yang dipergunakan sebagai tempat pemujaan  umat Hindu diperkirakan padsa jaman Dalem berkuasa­ di Bali. Sebelum dikenal istilah Pura, untuk menunjukkan tempat pemujaan Hindu di Bali dikenal istilah Kahyangan atau Hyang. bahkan pada jaman Bali kuno dipakai istilah “Ulon” yang berarti tempat suci atau tempat yang dipakai untuk berhubungan dengan ke-Tuhanan. Hal ini dimuat dalam prasasti sukawana A I (th. 882 M)
Demikian pula prasasti Pura Kehen menyebutkan istilah Hyang. menurut lontar Usana Dewa Mpu Kuturan lah yang mengajarkan umat Hindu di Bali membuat Khayangan dewa seperti cara membuat pemujaan Dewa di Jawa Timur. Mpu Kuturan adalah tokoh Hindu yang berasal dari Jawa datang ke Bali pada waktu pemerintahan raja Marakata, dan anak wungsu putra raja Udayana. kedatangan Mpu Kuturan ke Bali banyak membawa perubahan-perubahan dan tata keagamaan. Mpu Kuturan yang mengajarkan membuat Sad Khayangan Jagat, beliaulah yang memperbesar Pura besakih dan mendirikan Pelinggih Meru, Gedong dan lain-lainnya. beliau pula yang mendirikan Khayangan Tiga di setiap Desa Adat di Bali, selain beliau mengajarkan secara fisik, juga belia mengajarkan perbuatan secara spiritual, misalnya : jenis-jenis upacara, jenis-jenis pedagingan pelinggih dan sebagainnya, seperti diuraikan dalam lontar dewa tatawa. sebelum Dinasti Dalem memerintah di Bali istana raja disebut kedaton atau keraton. Setelah jaman Dalem istana Raja disebut “Pura”. Hal ini disebabkan menurut Negarakertagama menyebutkan bahwa apa yang berlaku di Majapahit, diperlukan pula di Bali oleh Dinasti Dalem. demikianlah keraton Dalem di Samprangan disebut lingga rsa pura, keraton Dalem di Gelgel disebut Sueca Pura dan keraton Dalem di Klungkung disebut Semarapura. Setelah Dalem berkeraton di Klungkung, istilah pura mulai dipakai untuk menyebutkan tempat suci pemujaan. sedangkan istana raja tidak lagi disebut pura tetapi “puri”. Demikianlah istilah pura menjadi istilah baku sampai sekarang untuk menyebutkan tempat suci.
Di Bali khususnya di dalam orang-orang mendirikan suatu pura lebih-lebih pura khayangan jagat berlandaskan konsepsional filosopis yang relevan dengan ajaran Tattwa agama Hindu di Bali. Dari uraian tersebut di kemukakan tiga landasan konsepsi filosopis yaitu konsepsi rwa bhineda, konsepsi Catur Loka Pala dan konsepsi Sad Winayaka, sebagai berikut :
  1. A.       Konsepsi Rwa Bhineda :
Konsepsi ini merupakan kesatuan purusa dan pradana. konsepsi ini melandasi pendirian kahyangan :
  1. Kahyangan Gunung Agung (Besakih sebagai Purusa)
  2. Kahyangan Batur sebagai Pradana
  1. B.        Konsepsi Catur Loka Pala :
Konsepsi ini merupakan konkritisasi dari pada Cadu Sakti, yaitu empat aspek kemahakuasaan Hyang Widhi. konsepsi inilah yang melandasi pendirian Kahyangan Catur Loka Phala yaitu :
  1. Pura Lempuyang di timur,
  2. Pura Andakasa di selatan
  3. Pura Batu Karu di barat
  4. Pura Puncak Mangu di utara.
  1. C.        Konsepsi Sad Winayaka :
konsepsi ini adalah landasan pendirian Sad Kahyangan di Bali yang secara konsepsional terkait dengan Sad Kertih, yaitu :
  1. Pura Besakih
  2. Pura Lempuyang
  3. Pura Goa Lawah
  4. Pura Ulu Watu
  5. Pura Batu Karu
  6. Pura Pusering Jagat
Ketiga landasan filosofis inilah yang menjadikan dasar mendirikan kahyangan jagat yang dinamakan Padma Buana sebagai stana dari Hyang Widhi dalam berbagai aspek yang diwujudkan dalam sembilan (9) Kahyangan Jagat yaitu :
  1. Pura Lempuyang di timur tempat memuja Iswara
  2. Pura Andakasa di selatan  tempat memuja Brahma
  3. Pura Batu Karu di barat tempat memuja Mahadewa
  4. Pura Batur di utara tempat memuja Wisnu
  5. Pura Besakih  di timur laut tempat memuja Sambhu
  6. Pura Goa Lawah di tenggara  tempat memuja Maheswara
  7. Pura Ulu Watu  di barat daya tempat memuja Rudra
  8. Pura Puncak Mangu di barat laut tempat memuja Sangkara
  9. Pura Pusering Jagat di tengah tempat memuja Siwa
Oleh karena gunung tertinggi atau samudra (segara-ukir) sebagai persyaratan pendirian kahyangan jagat tidak terletak di tengah-tengah pulau Bali sebagai pusat pemujaan altar tersuci Tuhan Siwa, maka dengan pertimbangan ini, maka Dang Hyang Markendya sebagai seorang yogi yang bijak memindahkan pura pusat pemujaan Tuhan Siwa ke lereng gunung Agung (Besakih) Gunung yang tertinggi di Bali, maka Besakih menempati posisi timur laut, juga menempati posisi tengah Padma Mandala.
Apabila kesembilan (9) kahyangan jagat ini di letakkan di dalam lukisan padma, maka keadaanya sesuai benar dengan arah sembilan penjuru dan karenanya sembilan kahyangan jagat ini disebut juga “Nawa Dikpalaka” yaitu sembilan penjaga penjuru bhuana. berdasarkan konsepsi padma mandala atau padma bhuana bunga padma dengan helai daun bunga yang berlapis-lapis, Pura  Besakih adalah  sari padma mandala atau padma bhuana sedangkan pura gelap, kiduling kreteg, Ulun Kulkul, Batu Madeg adalah catur Dala lapisan pertama serta Pura Lempuyang, Andakasa, Batu Karu, Batur, Goa Lawah, Ulu Watu, Puncak Mangu adalah Asta Dala (Catur Dala lapisan kedua dalam posisi dik widik). Pura-pura tersebut diatas adalah pura-pura yang sangat disucikan dan merupakan satu-kesatuan yang utuh, merupakan pusat kesucian dan kerahayuan bagi umat Hindu.

LAMPIRAN HIMPUNAN KEPUTUSAN SEMINAR KESATUAN TAFSIR TERHADAP ASPEK-ASPEK AGAMA HINDU

Tentang Padmasana :
  • Padmasana adalah lambang makrokosmos / alam semesta yang merupakan Stana Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Siwa Aditya). Padmasana dapat dibedakan atas :
  1.                                                               i.      Berdasarkan lokasi (menurut pengider-ider), terbagi dalam 9 (sembilan) buah berdasarkan Lontar Wariga Catur Winasa Sari :
    1. Padma Kencana bertempat di Timur menghadap ke Barat.
    2. Padmasana bertempat di Selatan menghadap ke Utara.
    3. Padmasana Sari bertempat di Barat menghadap ke Timur.
    4. Padmasana Lingga bertempat di Utara menghadap ke Selatan.
    5. Padma Asta Sedana bertempat di Tenggara menghadap ke Barat Laut.
    6. Padma Noja bertempat di Barat Daya menghadap ke Timur Laut.
    7. Padma Karo bertempat di Barat Laut menghadap ke Tenggara
    8. Padma Saji bertempat di Timur Laut menghadap ke Barat Daya.
    9. Padma Kurung di Tengah-Tengah me Rong Tiga menghadap ke Lawangan.
  1.                                                             ii.      Berdasarkan atas Rong (Ruang) dan Pepalihannya (tingkatan atau Undag) dapat dibedakan atas :
    1. Padmasana Anglayang, Padmasana ini ber – ruang (me-rong) Tiga, mempergunakan Bedawang Nala dengan Palih Tujuh.
    2. Padma Agung, Padmasana ini ber-ruang (me-rong) Dua mempergunakan Bedawang Nala dengan Palih Lima.
    3. Padmasana, Padamasana ini ber-ruang (me-rong) Satu mempergunakan Bedawang Nala dengan Palih Lima.
    4. Padmasari, Padma ini ber-ruang (me-rong) Satu dengan Palih Tiga yaitu Palih Taman (bawah), Palih Sancak (tengah) dan Palih Sari (atas), tidak mempergunakan Bedawang Nala.
    5. Padmacapah, Padma ini ber-ruang (me-rong) Satu dengan Palih Dua yaitu Palih Taman (bawah) dan Palih Capah (atas), tidak mempergunakan Bedawang Nala.
Catatan : Padmasari dan Padmacapah dapat ditempatkan menyendiri dan berfungsi sebagai penghayatan / penyawangan dan mengenai pedagingan kedua Padma ini hanya pada dasar dan puncak saja. Sedangkan Padmasana yang mempergunakan Bedawang Nala berisi pedagingan pada Dasar Madhya (tengah) dan Puncak.
  • Tatacara pembuatan Padmasana berdasarkan Lontar Asta Kosala-Kosali dan Asta Bhumi.
  • Upakara / Upacara termasuk pependeman dan pedagingan berdasarkan Lontar Dewa Tatúa, Lontar Wariga Catur Winasa Sari, Lontar Usana Dewa dan Lontar Dewa Tatúa.
Tentang Rong Tiga :
  • Rong Tiga adalah Pelinggih Tri Murti ¿ Hyang Kemimitan / Hyang Kemulan  berdasarkan Lontar Purwa Gama Sesana, Lontar Kusuma Dewa, Lontar Gong Wesi.
  • Tatacara pembuatan Rong Tiga berdasarkan atas Lontar Asta Kosala-Kosali dan Asta Bhumi.
  • Upakara / Upacara termasuk pependeman dan pedagingan berdasarkan Lontar Dewa Tattwa, Lontar Wariga Catur Winasa Sari, Lontar Usana Dewa, Lontar Widhi Tattwa dan terutama Lontar Resuma Dewa.
Tentang Meru :
  • Meru adalah melambangkan Gunung Mahameru yang merupakan Sthana / Pelinggih Dewa-Dewi, Bhatara-Bhatari Leluhur berdasarkan Lontar Purana Dewa, Lontar Resuma Dewa, Lontar Widhi Sastra, Lontar Wariga Catur Winasa Sari dan Lontar Jaya Purana. Landasan filosofis dari meru adalah berlatar belakang pada kepercayaan terhadap gunung yang disucikan sebagai sthana para dewa dan roh leluhur. Untuk kepentingan pemujaan akhirnya gunung yang suci tersebut disymbolkan / nyasa berbentuk replika (tiruan) bangunan yang disebut dengan candi, prasada, meru. Bentuk Meru dapat dibedakan sebagai berikut :
  1.                                                               i.      Ciri Umum :
    1. Dapat dibedakan dari Dasar, Badan, Atap
    2. Bangunan Dasarnya Segi Empat
    3.                                                             ii.      Ciri Khusus :
      1. Ada jenis Meru yang badannya berbentuk ruangan yang dapat dipergunakan untuk tempat sembahyang, dan ada pula Meru yang badannya berbentuk ‘banyah’ yang ruangannya tidak dapat dimasuki sebagai tempat sembahyang.
      2. Atap Meru bertumpang dan sebanyak-bayaknya tumpang sebelas.
      3. Arti susunan atap Meru yang pada umumnya ganjil sebagai lambang / symbol / nyasa ‘patalaning bhuwana dan pangalukuan dasaksara’, seperti :
        1. Meru tumpang satu
        2. Meru Tumpang dua
        3. Meru Tumpang tiga
        4. Meru Tumpang lima
        5. Meru Tumpang tujuh
        6. Meru Tumpang sembilan
        7. Meru Tumpang sebelas
Meru tumpang satu sampai dengan meru tumpang tiga berpedagingan pada dasar dan puncak, sedang meru tumpang lima sampai dengan meru tumpang sebelas berpedagingan pada dasar, madhya dan puncak.
  • Fungsi Meru :
  1.                                                               i.      Tempat pemujaan Istadewata seperti Meru di Kiduling Kreteg Besakih tempat pemujaan Dewa Brahma, dan di Pura Batu Madeg Besakih tempat pemujaan Dewa Wisnu dsb.
  2.                                                             ii.      Tempat pemujaan Bhtara-Bhatari seperti pada Padharman-Padharman di Komplek Pura Besakih dsb.
  • Tatacara pembuatan Meru berdasarkan Lontar Asta Kosala-Kosali dan Astha Bhumi, untuk membedakan jenis Meru pemujaan Istadewata dan Bhatara-Bhatari antara lain :
  1.                                                               i.      Dari segi Pedagingan
  2.                                                             ii.      Dari segi Puja / Stawa
  • Upakara / Upacara termasuk pependeman dan pedagingan berdasarkan Lontar Dewa Tattwa, Lontar Wariga Catur Winasa Sari, Lontar Usana Dewa, Lontar Widhi Tattwa dan terutama Lontar Resuma Dewa.
Tentang Pengertian Pelinggih :
            Pelinggih adalah tempat sthana Ida Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasi-NYA yang dibuat sesuai dengan Lontar Asta Dewa dan Lontar Asta Kosala-Kosali serta telah disangaskara.
Padmasana di Pura Penataran Agung Besakih :
  • Sesuai dengan Lontar Padma Bhuwana, pengertian Padma tersebut adalah :
    • Namanya              : Padma Bhuwana
    • Bentuk Bangunan            : Padamasana Tri Tunggal (Tiga bangunan Padmasana dengan Dasar Tunggal)
    • Yang di Lingga Sthanakan : adalah Sang Hyang Tiga Wisesa (Siwa, Sada Siwa, Parama Siwa)
      • Di Tengah Lingga Sthana Ida Sang Hyang Parama Siwa
      • Di Kanannya Lingga Sthana Sang Hyang Sada Siwa
      • Di Kirinya Lingga Sthana Sang Hyang Siwa
      • Fungsinya : Penyungsungan Jagad.
Pura Desa :
  • Letaknya : Pada tempat yang dipandang suci oleh Krama Desa yang bersangkutan, sebaiknya di tengah-tengah Desa.
  • Jajaran Pelinggih :
    • Gedong Lingga Sthana Dewa Brama
    • Pelinggih Ratu Ketut Petung
    • Lingga Sthana Sedahan Penglurah (Tepas Mecaling)
    • Padmasana Lingga Sthana Ida Sang Hyang Widhi
    • Bale Agung Lingga Sthana Begawan Penyarikan / Bagawati
    • Gedong / Bebaturan (Panghulun Bale Agung) Sthana Bhatari Rambut Sedana (Melanting)
Pura Puseh :
  • Letaknya sama dengan Pura Desa
  • Jajaran Pelinggih :
    • Meru Tumpang 7 Lingga Sthana Dewa Wisnu
    • Lingga Sthana Ratu Made Jelawung
    • Lingga Sthana Sedahan Penglurah (Tepas Mecaling)
    • Padmasana Lingga Sthana Ida Sang Hyang Widhi
    • Batur Sari Lingga Sthana Dewi Danuh
    • Gedong Lingga Sthana Ibu Pertiwi (Naga Ananta Bhoga)
Pura Dalem :
  • Letaknya : Sebaiknya di Teben Desa berdekatan dengan Setra.
  • Jajaran Pelinggih :
    • Gedong Lingga Sthana Dewi Durgha (Sakti Siwa)
    • Lingga Sthana Ratu Nyoman Sakti Pengadangan
    • Lingga Sthana Sedahan Penglurah (Tepas Mecaling)
    • Bedogol Lingga Sthana Sang Bhuta Diyu (Apit Lawang)
    • Bedogol Lingga Sthana Sang Bhuta Garwa (Apit Lawang)
    • Pada Panghulun Setra dibangun Pelinggih Prajapati, berbentuk Padma dan sebuah bebaturan Linggih Sedahan Setra
Pemerajan / Sanggah :
  • Letaknya di hulu pekarangan rumah
  • Jajaran pelinggih :
    • Kemulan Rong Tiga Linggih Hyang Guru Kemulan / Tri Murti / Leluhur
    • Linggih Sedahan Penglurah
    • Gedong Linggih Taksu
Catatan :
Pura Desa dan Pura Puseh apabila digabung dalam satu pelebahan Pura dengan catatan :
  • Jajaran Pelinggih Pura Desa dan Pelinggih Pura Puseh sama terletak di hulu
  • Padmasana hanya dibangun satu buah
  • Meru minimal dibangun yang bertumpang tiga
  • Jajaran Pelinggih Pura Desa dan Pura Puseh digabung dalam satu Pelebahan Pura :
    • Gedong Lingga Sthana Dewa Brama
    • Lingga Sthana Ratu Ketut Petung
    • Lingga Sthana Sedahan Penglurah
    • Padmasana Lingga Sthana Ida Sang Hyang Widhi
    • Lingga Sthana Dewi Danuh
    • Lingga Sthana Tepas Mecaling
    • Meru Lingga Sthana Dewa Wisnu (sekurang-kurangnya meru tumpang tiga)
    • Lingga Sthana Ratu Made Jelawung
    • Linggih Sthana Ibu Pertiwi (Naga Ananta Bhoga)
    • Gedong Bebaturan (Panghulun Bale Agung) Lingga Sthana Dewi Sri Rambut Sedana (Melanting)
    • Bale Agung Lingga Sthana Bhagawan Penyarikan / Dewi Bhagawati.
VI. DAFTAR PUSTAKA
Astra, Semadi, I Gde, 1977. Birokrasi Pemerintahan Bali Kuno Abad XII-XIII : Sebuah Kajian Epigraphis. Disertasi, Yogyakarta : Universitas Gajah Mada.
Ardana, I Gusti Gde, dkk. 1983. Inventarisasi Aspek-Aspek Nilai Budaya Bali, Denpasar : Proyek Bantuan Sosial.
Ginarsa, Ketut, 1985. Adanya Tempat-Tempat Suci di Bali. Bali Post, hal. IV, Tanggal 4 September.
Soma, Dewa Ketut, 1999. Pura Gelap, Catur Dala Pura Agung Besakih. Parisadha Hindu Dharma Indonesia Kab. Klungkung.
Dinas Kebudayaan Propinsi Bali, 2001. Kajian Alih Aksara Dan Alih Bahasa Lontar Panugrahan Dalem.
Setiawan, I Ketut, Maret 2002. Menelusuri Asal-Usul Tempat Suci Di Bali Dalam Rangka Pengelolaan Sumberdaya Budaya. Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Udayana.
 
 
 DENAH PAMERAJAN
Keterangan Denah :
  1. Kemulan Rong Tiga Linggih Hyang Guru Kemulan / Tri Murti / Leluhur
  2. Linggih Sedahan Penglurah
  3. Gedong Linggih Taksu
Keterangan Denah :
  1. Gedong Bata Lingga Stana Dewa Brahma
  2. Pelinggih Ratu Ketut Petung
  3. Lingga Stana Sedahan Penglurah (tepas mecaling)
  4. Padmasana Lingga Stana Ida Sang Hyang Widhi
  5. Bale Agung Lingga Stana Begawan Penyarikan
  6. Gedong/Bebaturan (hulun Bale Agung) Lingga Stana Bhetari Sedana (Melanting)
Keterangan denah :
  1. Meru (Tumpang 7) Lingga Stana Dewa Wisnu
  2. Lingga Stana Ratu Made Jelawung
  3. Lingga Stana Sedahan Penglurah (tepas mecaling)
  4. Padmasana Lingga Stana Ida Sang Hyang Widhi
  5. Batur Sari Lingga Stana Dewi Danuh
  6. Gedong Lingga Stana Ibu Pertiwi (Ananta Boga)
Keterangan Denah :
  1. Gedong Bata : Lingga Stana Dewi Durgha (Cakti Ciwa)
  2. Lingga Stana Ratu Nyoman Sakti Pengadangan
  3. Lingga Stana Sedhana Penglurah (Tepas Mecaling)
  4. Bedogol (Apit Lawang) Lingga Stana Sang Bhuta Diyu
  5. Bedogol (Apit Lawang) Lingga Stana Sang Bhuta Garwa
Keterangan Denah :
  1. Padma
  2. Bebaturan
Keterangan Denah :
  1. Gedong Lingga Stana Dewa Brahma
  2. Lingga Stana Ratu Ketut Petung
  3. Lingga Stana Sedahan penglurah
  4. Padmasana Lingga Stana Ida Sang Hyang widhi
  5. Lingga Stana dewi Danuh
  6. Lingga Stana Tepas Mecaling
  7. Meru (sekurang-kurangnya tumpang 3) Lingga Stana Dewa Wisnu
  8. Lingga Stana ratu Made Jelawung
  9. Linggih Stana Ibu Pertiwi (Ananta Bhoga)
  10. Gedong Bebaturan (hulun Bale Agung) Lingga Stana Dewi Cri Sedana
  11. Bale Agung Lingga Stana Begawan Penyarikan

GALUNGAN

MAKNA PERAYAAN GALUNGAN


Dulu ketika aku masih anak anak perayaan Hari Raya Galungan sangat terasa sekali, dimana setiap Galungan kita pasti akan dibelika pakaian baru dan suasana pada hari Galunganpun jauh berbeda dengan hari hari biasa. Itu sekitar tahun 1970 an dimana saat itu belumlah ada barang barang seperti saat ini apalagi aku hidup di desa yang jauh dari kota, jangankan mainan dari pabrik, kendaraan / angkutan umum yang lewat di desaku sehari cuman dua kali yaitu pagi pukul 7.30 dan sore pukul 2.30 maklum cuman ada dua bus kecil yang lewat di desaku, kalau telat sedikit ya udah nggak jadi pergi nunggu besoknya….. sehingga saat itu kalau yang namanya makan daging ya saat Galungan itu, dan itu rasanya luar biasa sekali, mungkin anak yang lain juga merasakan seperti itu juga.
Tapi sekarang Galungan rasanya sama saja dengan hari hari biasa cuman sekarang yang masih kita lakukan adalah persembahyangan bersama di Pura.
Apakah sebenarnya Galungan Itu ?????????????

Galungan adalah hari raya suci umat Hindu yang dikenal pula dengan istilah hari Pawedalan Jagat dan juga hari yang diperingati sebagai kemenangan dharma atas adharma. Namun sebelum merayakan Galungan yang jatuh pada Buda Kliwon wuku Dungulan, sebenarnya ada beberapa hari raya yang menjadi satu rangkaian dengan hari raya Galungan. Antara lain adalah hari Sugihan. Sugihan ini dirayakan satu minggu sebelum perayaan Galungan.

Pada ulasan kali ini, marilah kita mencoba bersama-sama untuk menelusuri lebih jauh mengenai semangat maupun nilai-nilai yang dikandung dalam peryaan sugihan itu sendiri. Selain itu juga mengenai apa dan bagaimana bentuk aplikasi dari nilai yang terdapat dalam perayaan ini.

Pembahasan Hari raya Sugihan merupakan rangkaian hari raya yang menyertai hari raya Galungan. Hari raya ini dirayakan umumnya tidak seistimewa ataupun semeriah Galungan. Namun hari raya ini memiliki nilai filosofi yang tidak kalah penting dari filosofi Galungan sebagai hari peringatan kemenangan dharma atas adharma. Sebelum melanjutkan pembahasan lebih jauh mengenai hari raya Sugihan, maka terlebih dahulu marilah kita mencoba memaknai definisi kata sugihan tersebut dari sudut etimologi kata sugihan itu sendiri.

Sugihan secara etimologi berasal dari kata sugi, yang berarti suci atau kesucian. Sehingga definisi dari hari raya sugihan itu sendiri adalah suatu hari raya, yang diperuntukan sebagai waktu untuk melaksanakan pensucian. Pensucian disini tentunya dikaitkan dengan perayaan dari hari raya Galungan, sebelum Galungan datang, hendaknya kita melaksanakan pensucian. Pensucian terhadap apa ? pensucian terhadapa bhuana agung dalam hal ini adalah lingkungan termasuk peralatan yang akan dipergunakan pada saat Galungan. Dan pensucian terhadap bhuana alit dalam hal ini adalah diri kita sendiri, sebagai pelaksana dalam perayaan hari raya Galungan.

Dalam Panca Niyama Brata, atau lima macam pengendalian diri tahap kedua untuk mencapai tujuan akhir yaitu moksartham jagadhita ya ca iti dharma. Konsep kesucian ini disebut dengan sauca. Yang dalam pustaka Silakrama 64 dituliskan sebagai berikut;

Akrodha grurususrusa, saucam ahara-laghawam
Apramadac ca pancaite, niyamah ciwabheasitah

(Yang namanya akrodha ialah tidak suka marah, yang bernama guru susrusa ingin berhubungan rapat dengan guru, karena ingin mendengar pelajaran guru, yang bernama sauca selalu berdoa, memohon kebersihan lahir bathin terhadap Tuhan. Yang bernama aharalaghawa, tidak sembarangan makanan dimakan, apramada namanya tidak segan-segan membiasakan ajaran kependetaan/ kerohanian. Kelima itu bernama Niyama Brata, sabda bhatara Siwa)

Mengenai definisi maupun makna yang terkandung dalam hari raya Sugihan telah kita bahas bersama. Kemudian akan timbul pertanyaan lain, kenapa hari raya Sugihan menjadi rangkaian dalam perayaan hari raya Galungan. Pertanyaan ini dapat dijelaskan atau diuraikan sebagai berikut. Galungan diibaratkan sebagai suatu puncak kemenangan dharma atas adharma. Secara logis, tentunya untuk memperoleh suatu kemenangan, terdapat suatu rangkaian peristiwa perjuangan sehingga kemenangan tersebut dapat diraih dengan gemilang.

Hari raya Sugihan merupakan rangkaian proses perjuangan dari dharma atas adharma. Dalam proses ini ada dua hal yang dititik beratkan yaitu bhuana agung dalam hal ini adalah lingkungan sekitar dan bhuana alit yaitu diri sendiri. Diusahakan pada kedua tempat ini, dharma selalu dapat unggul daripada adharma.

Perjuangan ini diwujudkan dalam bentuk pensucian terhadap kedua hal tersebut, yakni bhuana agung dan bhuana alit. Sehingga hari raya Sugihan juga dibedakan atas hari raya Sugihan Jawa dan hari raya Sugihan Bali. Kata Jawa di sini sama dengan Jaba, artinya luar. Sugihan Jawa bermakna menyucikan bhuana agung (bumi ini) di luar dari manusia. Sedangkan kata Bali dalam bahasa Sansekerta berarti kekuatan yang ada di dalam diri. Dan itulah yang disucikan pada saat hari raya Sugihan Bali.

Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Sugihan Jawa itu merupakan Pasucian dewa kalinggania pamrastista batara kabeh (Penyucian Dewa, karena itu hari penyucian semua bhatara). Maksudnya ialah pada waktu hari raya ini yang disucikan ialah dewa, yang dalam dalam hal ini mewakili kondisi bhuana agung (makrokosmos) yang terdapat di alam semesta ini. Sedangkan pada hari Sugihan Bali disebutkan Kalinggania amretista raga tawulan (Oleh karenanya menyucikan badan jasmani masing-masing). Maksudnya ialah dilaksanakan pensucian bagi bhuana alit (mikrokosmos) dari alam semesta ini, yaitu diri kita masing-masing.

Lebih jauh lagi, kenapa hari raya Sugihan ini menjadi rangkaian dari perayaan kemenangan dharma atas adharma, ialah kembali dari definisi kata sugihan itu sendiri yaitu kesucian. Kesucian sangat berperan dalam menegakan atau memenangkan dharma atas adharma. Kalau kita renungkan lebih dalam, titik akhir dari semua pergulatan hidup di alam semesta ini adalah kesucian itu sendiri. Tanpa kesucian dari jasmani dan rohani bagaimana kita dapat melampaui rintangan kelahiran ini untuk mencapai apa yang dinamakan moksartham jagadhita ya ca iti dharma, bukankah demikian ?

Seperti yang telah kita kupas bersama, bahwa hari raya sugihan terdiri atas hari raya sugihan Jawa dan hari raya sugihan Bali. Pertanyaan selanjutnya ialah, kapankah kedua macam hari raya sugihan ini diperingati atau dirayakan ? Sebagaimana yang kita ketahui bersama, secara garis besarnya, pedoman atau patokan yang dipakai dasar untuk memperingati hari raya keagamaan bagi umat Hindu dibedakan menjadi dua macam yaitu: berdasarkan perhitungan sasih (pranata mangsa) dan berdasarkan pawukon (wuku).

Karena hari raya sugihan ini merupakan rangkaian dari perayaan Galungan, maka secara otomatis, hari raya ini diperingati berdasarkan pawukon (wuku) yaitu setiap 210 hari sekali. Tepatnya Sugihan Jawa dirayakan pada hari Wrehaspati Wage Wuku Sungsang, enam hari sebelum Galungan. Sedangkan Sugian Bali diperingati keesokan harinya yaitu pada Sukra Kliwon Wuku Sungsang.

Sebagai bagian dari rangkaian hari raya Galungan, yang merupakan perayaan sakral yang memberikan kekuatan spiritual agar mampu membedakan dorongan Asuri Sampad dan Daiwi Sampad, dimanakah selayaknya hari raya Sugihan ini dirayakan ? Pertanyaan ini mengacu kepada tempat pelaksanaan hari raya Sugihan.

Seperti yang telah diulas, bahwa Sugihan sebagai peringatan untuk pensucian bagi bhuana agung dan bhuana alit, maka tempat pelaksanaannya tentu saja dititik beratkan pada dua hal ini. Secara umum sebagai sebuah hari raya suci, maka tentu saja yang paling utama pelaksanaan peringatan hari raya Sugihan ini dilaksanakan di tempat yang suci pula yaitu Pura ataupun Sanggar. Mengapa demikian ?, karena tempat tersebut merupakan tempat bersthananya kekuatan dari Brahman selaku pencipta alam semesta ini. Disamping itu pula pelaksanaan di pura juga dapat menyatukan simbol dari bhuana agung yaitu lingkungan pura itu sendiri serta bhuana alit yaitu umat yang melaksanakan persembahyangan di sana.

Namun tidak ada satupun sastra suci Hindu yang mewajibkan perayaan sugihan dilaksanakan di Pura ataupun Sanggar, kalaupun kita tidak dapat pergi ke tempat suci tersebut, kita dapat merayakan Sugihan di rumah dengan penuh rasa penghayatan terhadap makna yang dikandung dalam Sugihan itu sendiri.

Adalah jauh lebih berarti merayakan Sugihan di rumah dengan penuh kesadaran dan pengetahuan akan makna sugihan itu sendiri daripada merayakan di tempat suci namun segenap pikiran atau manah kita tidak tercurah pada pesan yang terkandung dalam perayaan itu sendiri.

Hari raya Sugihan merupakan bagian sebuah perayaan hari suci Galungan, siapakah yang boleh merayakan ini ? adakah batasan pelaku dari perayaan Sugihan ini ?. Apabila meyangkut kajian kepercayaan terhadap keberadaan pencipta alam semesta ini, maka tentu saja perayaan Sugihan ini dititik beratkan kepada mereka yang memeluk agama (kepercayaan) Hindu

Namun diluar kajian tersebut semangat perayaan Sugihan dapat dirayakan oleh siapa saja tanpa mengenal suatu batasan, karena sesunguhnyalah Brahman itu sendiri tidak terbatas oleh apa pun juga. Batasan itu ada, salah satunya karena budaya manusia.

Dalam Hindu sendiri, tidak ada batasan siapa yang boleh atau tidak boleh merayakan Sugihan, siapa pun ia, baik anak kecil, atau orang dewasa. Apakah ia rohaniawan atau bukan, apakah ia pejabat atau rakyat. Semua berhak merayakan Sugihan sebagai bagian dari perayaan penegakan Dharma atas Adharma.

Prabu Sri Aji Joyoboyo dalam salah satu wejangannya mengenai zaman Kertayuga khususnya pada zaman Kerta Hastuta, mewejangkan mengenai keberadaan dan sifat Gusti Sang Hyang Widhi Wasa sebagai berikut; Hyang Widhi iku siji, ana ing ngendi papan, langgeng, sing nganakake jagad iki saisine, dadi sasembahane wong saalam kabeh, nganggo carane dhewe-dhewe ( Sang Hyang Widhi itu satu, ada dimana-mana, abadi, pencipta alam seisinya, dan menjadi sasembahan manusia sejagad raya, dengan memakai tata caranya masing-masing) Hyang Widhi iku ora mbedak-mbedakake kawula-Ne (Gusti Sang Hyang Widhi itu tidak membeda-bedakan makhluk-Nya)

Dari wejangan tersebut dapat kita ketahui kalau Gusti sang Hyang Widhi ada dimana-mana dan tidak membeda-bedakan umatNya serta menerima semua bentuk tata cara menuju manunggaling pada Dia. Termasuk pula melalui perayaan hari raya Sugihan ini.

Sebagai pembahasan terakhir kita ialah mengenai bagaimana pelaksanaan perayaan Sugihan ini ? dan juga bagaimana usaha-usaha yang dapat dilakukan guna memantapkan nilai-nilai yang terdapat dalam peryaan hari raya Sugihan ini ?

Inti dari perayaan Sugihan ini adalah suatu proses ataupun usaha pensucian terhadap bhuana agung dan bhuana alit, yang datangnya setiap 210 hari sekali, sebagai rangkaian dari peringatan kemenangan dharma atas adharma. Pada Sugihan Jawa, aktivitas yang dapat dilakukan sebagai cermin dari pensucian bhuana agung adalah membersihkan areal tempat suci dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci tersebut. Selain membersihkan areal tempat suci, juga dilakukan pembersihan pada lingkungan rumah masing-masing. Pembersihan ini tentunya dilakukan baik secara sekala maupun niskala. Secara sekala misalnya dengan gotong royong membersihkan lingkungan tempat suci ataupun rumah masing-masing. Sedangkan secara niskala dapat dilakukan dengan persembahayangan bersama baik di tempat suci maupun di rumah masing-masing.

Untuk hari Sugihan Bali, sebagai waktu yang ditujukan bagi pensucian bhuana alit, yaitu bagi diri kita sendiri-sendiri. Dapat dilakukan dengan melaksanakan upawasa semampunya, maupun dengan melaksanakan persembahyangan baik di rumah maupun di tempat suci. Dapat pula dengan melakukan samadhi, untuk menenangkan pikiran dalam menyambut datangnya hari kemenangan dharma atas adharma. Sloka dari pustaka suci Manawa Dharma Sastra berikut ini, dapat pula dijadikan pedoman dalam pelaksanaan Sugihan Bali. Adapaun bunyinya sebagai berikut: Adbirgaatrani suddhyati, Manah satyena suddhyati, Vidya tapobhyam bhutaatma, Buddhir jnyanena sudhyati (Badan dibersihkan dengan air, Pikiran disucikan dengan kebenaran dan kejujuran, Atman disucikan dengan ilmu pengetahuan dan Tapa, Budhi disucikan dengan kebijaksanaan) Manawa Dharmasastra V.109

Bunyi sloka tersebut, memberi kita suatu tuntunan tindakan yang dapat ditempuh dalam usaha-usaha yang diperuntukan bagi pencapaian kesucian atau kebersihan dari diri kita sendiri, baik secara sekala maupun niskala, dan secara jasmani maupun rohani.

Bertolak dari bunyi sloka tersebut, maka sebenarnya penerapan konsep atau tattwa dari hari raya Sugihan ini, dapat dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Konsep kesucian ini dapat meningkatkan kualitas hubungan sosial kita secara horisontal yakni dengan sesama dan juga dengan lingkungan alam kita. Maupun kualitas hubungan rohani kita secara vertikal dengan Brahman (Gusti Sang Hyang Widhi).

Sebagai contoh, nilai yang terkandung dalam perayaan Sugihan Jawa ialah pensucian terhadap bhuana agung (makrokosmos). Banyak tindakan yang terkesan sederhana tapi dapat mencerminkan nilai-nilai ini dalam hidup bermasyarakat. Misalnya saja, menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak melanggar pertauran lalu lintas yang telah ada, peduli dan aktif dalam kegiatan gotong royong membersihkan jalan umum atau pun sarana peribadatan seperti pura atau sanggar. Gotong royong seperti ini seyogianya tidak perlu menunggu datangnya Sugihan, dapat dilaksankan setiap bulan sekali. Bisa dibayangkan aklau kegiatan seperti ini dilakukan hanya pada saat Sugihan, tempat suci kita tentu akan berkurang keasrian dan kesuciannya baik secara sekala atau niskala.

Sedangkan nilai yang terkandung dalam sugihan Bali, sebagai waktu yang ditujukan untuk pensucian bhuana alit yaitu diri kita sendiri, juga dapat dilaksanakan secara rutin setiap hari. Misalnya saja dengan menerapkan konsep Tri Kaya Parisudha pada kehidupan bermasyarakat kita. Dengan mengusahakan kebersihan dan kesucian pikiran, perkataan dan perbuatan kita, niscaya kesucian diri pribadi dapat kita capai.

Hari raya Sugihan merupakan rangkaian dari perayaan Galungan, dimana kita dianjurkan untuk sennatiasa mengusahakan kesucian bhuana agung dan bhuana alit. Yang mana diharapkan akan bermuara pada penemuan kesejatian diri. Penemuan kesejatian diri bukanlah hal yang terjadi secara cepat, hanya melalui satu kali peryaan Sugihan. Tapi selalu dilakukan usaha-usaha yang sungguh-sungguh, untuk senantiasa menerapkan nilai dari Sugihan itu sendiri dari kelahiran ke kelahiran. Kita berusaha menghilangkan pengaruh kurang baik karma wasana-karma wasana yang lampau untuk sampai pada pembebasan (Moksha).

Semoga perayaan Sugihan kali ini dapat labih mantap lagi dan lebih sempurna, disinari oleh sinar suci Veda. Semoga Brahman dalam segala manifestasinya selalu membimbing kita ke jalan pembebasan.sejati.

Kembali ke Hari Raya Galungan

Galungan adalah hari kemenangan Dharma melawan Adharma yaitu pemujaan terjadinya kemenangan kebenaran atas ketidakbenaran dengan restu Sang Hyang Widhi Wasa. Galungan diadakan kira 210 hari sekali pada hari Rabu Kliwon Wuku Dungulan
Kata "Galungan" berasal dari bahasa Jawa Kuno yang mempunyai arti “menang” Galungan mempunyai arti yang sama juga dengan “Dungulan”, yang juga berarti menang. Oleh karena itu di Jawa, wuku yang ke 11 disebut “Wuku Galungan” dan di Bali disebut dengan “Wuku Dungulan”. Kedua nama itu berbeda namun artinya tetap sama.
Sampai saat ini belum ada yang bisa memastikan kapan Hari Raya Galungan ini pertama kalinya dirayakan di Indonesia, Galungan dirayakan untuk pertama kalinya pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, pada tahun Saka 804 (882 Masehi).
Apabila bertepatan dengan purnama, Galungan di adakan dengan upacara yang lebih utama dan lebih meriah. Disamping itu ada keyakinan bahwa hari Purnama itu adalah hari yang diberkahi oleh Sanghyang Ketu yaitu Dewa Kecemerlangan. Ketu artinya terang (lawan katanya adalah Rau yang artinya gelap). Karena itu Galungan, yang bertepatan dengan bulan purnama disebut “Galungan Nadi”, yang datangnya sekitar kurun waktu 10 tahun sekali.Berdasarkan Lontar Purana Bali Dwipa Disebutkan pula, bahwa pulau Bali saat merayakan Galungan pertama itu bagaikan Indra Loka.
Galungan sempat di hentikan perayaannya pada masa raja Sri Ekajaya (tahun Saka 1103) dan raja Sri Dhanadi. Namun saat Galungan dihentikan perayaannya banyak terjadi musibah dan malapetaka yang menimpa Bali, saat itu banyak pejabat pejabat wafat diusia yang relatif masih muda. Saat raja Sri Dhanadi mangkat dan digantikan raja Sri Jayakasunu pada tahun 1126 Saka, barulah Galungan dirayakan kembali setelah beberapa puluh tahun tidak dirayakan.
Cerita ini semua dipaparkan dalam Lontar Sri Jayakasunu yang bercerita tentang kegundahan raja Sri Jayakasunu yang merasa heran,karena banyak pejabat pejabat meninggal saat usia muda, oleh sebab itu kemudian Raja Sri Jayakasunu melakuakan semedhi tapa brata dan mendekatkan diri dengan para Dewata, tapa brata dilakukan di Pura Dalem Puri, tak jauh dari Pura Besakih. Saat melakukan tapa brata raja Sri Jayakasunu mendapatkan bisikan gaib ( pawisik ) yang berasal dari dewi Durgha. Dalam bisikan gaib ( pawisik ) itu Dewi Durgha menjelaskan kepada raja bahwa leluhurnya selalu berumur pendek karena tidak lagi merayakan Galungan. Dewi Durgha meminta kepada raja Sri Jayakasunu untuk kembali mengadakan perayaan Galungan pada setiap Rabu Kliwon Dungulan sesuai dengan tradisi yang pernah berlaku. Lalu dewi Durgha juga meminta raja Sri Jayakasunu dan rakyatnya untuk memasang “penjor” Penjor sendiri mempunyai makna ungkapan rasa terima kasih atas kemakmuran dan kesejahteraan yang melimpahkan ruah dari Hyang Widhi wasa ( Tuhan Yang Maha Esa ). Penjor adalah Bambu yang menjulang tinggi dan melekung ini diibaratkan sebagai gambaran gunung agung tempat suci para dewa bersemayam. Penjor ini dihiasi dan terdiri dari kelapa ,pisang, tebu, padi, dan kain.ini semua adalah perwakilan dari seluruh tumbuhan sandang dan pangan.
Satu hari sebelum Galungan yaitu pada hari selasa, diadakan juga Upacara pembersihan diri dan hari ini dinamakan hari Anggara Wage Dungulan atau hari Penampahan di mana segala nafsu harus dihilangkan dan semua sifat manusia yang tidak baik di tinggalkan untuk menyambut hari Galungan esok hari dengan hati yang bersih dan suci lagi.
Pada esok harinya setelah Galungan pada hari kamis seluruh masyarakat bali yang beragaman hindu bersama sama menikmati sisa sajian dan melakukan pensucian dan sembahyang di rumah masing masing pada saat fajar menyingsing dengan air wangi (kumkuman) dan air suci (tirtha).Lalu saling berkunjung dan mendoakan keselamatan.

Pada hari berikutnya dinamakan hari “Sabtu Pon Dungulan” yang juga disebut hari Pemaridan Guru. Hari ini melambangkan kembali nya dewata ke sorga dan meninggalkan anugrah hidup sehat dan panjang umur (kadirghayusaan).Dihari ini seluruh umat dianjurkan untuk menghaturkan canang meraka dan matirta gocara. Upacara ini mengandung makna umat dapat menikmati Waranugraha Dewata. Dihari selanjutnya yaitu hari “Jumat Wage Kuningan” juga disebut hari Penampahan Kuningan.. Dihari ini dianjurkan untuk melakukan kegiatan rohani yang disebut juga dengan “sapuhakena malaning jnyana”, yaitu menghilangkan pikiran pikiran yang tidak baik dalam diri kita. Pada keesokan harinya, “Sabtu Kliwon” disebut juga hari “Kuningan”. Pada saat upacara dan memberikan sesajian hendaknya dilaksanakan pada pagi hari karena saat tengah hari para dewata sudah kembali ke surga Saat ini Galungan diperingati dengan meriah oleh seluruh umat hindu di bali dengan mengadakan Upacara dan bazar yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota yang ada di Bali.

maaf ini cuman Kopas punya orang untuk diri sendiri...


Om Santih, Santih, Santih, Om